Selasa, 04 Januari 2011

Laporan Ilmu Tanah

LAPORAN LENGKAP PRAKTIK LAPANG
DASAR-DASAR ILMU TANAH

Oleh
FAJERUN ALAMSYAH
E 281 08 035












PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TADULAKO
2010
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam bidang pertanian, tanah memiliki arti yang lebih khusus dan penting sebagai media tumbuh tanaman darat. tanah berasal dari hasil pelapukan batuan bercampur dengan sisa bahan organik dari organisme (vegetasi atau hewan) yang hidup di atasnya atau di dalamnya. Selain itu di dalam tanah terdapat pula udara dan air yang berasal dari hujan yang ditahan oleh tanah sehingga tidak meresap ke tempat lain. Dalam proses pembentukan tanah, selain campuran bahan mineral dan bahan organik terbentuk pula lapisan-lapisan tanah yang disebut horizon. Dengan demikian tanah (dalam arti pertanian) dapat didefenisikan sebagai kumpulan benda alam di permukaan bumi yang tersusun dalam horizon-horizon, terdiri dari campuran bahan mineral, bahan organik, air dan udara, dan merupakan media tumbuhnya tanaman.
Tanah itu merupakan medium alam untuk pertumbuhan tanaman. Tanah menyediakan unsure-unsur hara sebagai makanan tanaman untuk pertumbuhanya .selanjutnya unsure hara di serap oleh akar tanaman dan melalui daun di rubah menjadi persenyawaan organik seperti karbohidrat,protein lemak dan lai-lain yang amat berguna bagi manusia dan hewan. Dalam pengertian tradisional tanah adalah medium alami untuk perumbuhan tanaman daratan, tanpa memperhiungkan tanah tersebut mempunyai horizon yang keliatan atau tidak. Pengertian ini masih merupakan arti yang paling umum dari kata tersebut, dari perhatian yang terbesar pada tanah terpusat pada pengertian ini. Orang beranggapan tanah adalah penting, oleh karena tanah mendukung kehidupan tanaman-tanaman yang memaso pangan, serat, obat-obatan dan berbagai keperluan lain manusia, juga karena mampu menyaring air serta mendaur ulang limbah
Tanah yang terbentuk dari bahan-bahan berupa bahan mineral dan organik, air serta udara tersususn di dalam ruangan yang membentuk tubuh tanah. akibat berlangsungnya proses pembentukan tanah itu, maka terjadilah perbedaan morfologi, kimia, fisis dn biologi dari tanah yang berbeda-beda pula (Hakim, 1986).
1.2 Tujuan dan Kegunaanya
Tujuan Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah tentang Pengambilan contoh tanah yaitu untuk mengetahui sifat-sifat fisika tanah serta cara-cara pengambilan cotoh tanah di lapangan.
Kegunaan Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah tentang pengambilan contoh tanah agar mampu melakukan pengambilan cotoh tanah serta dapat mengatahui sifat-sifat fisika dari sampel tanah.




II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Contoh Tanah Utuh
Analisis tanah dilakukan terhadap contoh tanah yang diambil di lapangan dengan metode tertentu sesuai tujuan yang diharapkan. Analisa tanah dilabo-ratorium dilakukan terhadap variabel-variabel kimia dan fisik tanah : pH, kapasitas tukar kation, Nitrogen, kalium, fosfor, kalsium, magnesium (hara makro), hara mikro (Fe, Cu, Zn, B, Mo, dll), bahan organik, tekstur tanah dan sebagainya (Anonim. 2009).
Kadar unsur hara tanah yang diperoleh dari data analisis tanah bila dibandingkan dengan kebutuhan unsur hara bagi masing-masing jenis tanaman, maka dapat diketahui apakah status/kadar unsur hara dalam tanah tersebut sangat rendah (kurang), rendah, sedang, cukup ataukah tinggi, sesuai kriteria tertentu (Abdul Madjid, 2008).
Pengambilan contoh untuk analisis laboratorium, sesungguhnya tidak semudah yang dibayangkan orang. Mengapa demikian? Jawabannya adalah karena pemahaman ekstrim bahwa setiap jengkal tanah memiliki sifat yang berbeda. Dengan demikian contoh tanah yang diambil di lapangan haruslah representatif artinya contoh tanah tersebut harus dapat mewakili suatu areal atau luasan tertentu. Contoh yang tidak representatif selalu berakibat merugikan apakah petani ataupun masyarakat luas. Dengan demikian pengambilan contoh tanah harus mempertimbangkan sifat-sifat tanah dan faktor-faktor pembentukannya. Banyak faktor yang mempengaruhi proses pembentukan tanah tetapi hanya ada 5 faktor yang dianggap paling penting (Buol at al.,1980) yaitu (1) Iklim, (2) Organisme, (3) Bahan Induk, (4) Topografi , dan (5) Waktu. Dalam proses pembentukan tanah pengaruh kelima faktor tersebut bersifat simultan, bukan parsial. Walaupun kenyataan di lapangan ditemukan ada salah faktor yang lebih dominan pengaruhnya dibandingkan dengan faktor pembentukan tanah lainnya. Pengambilan contoh tanah merupakan tahap awal dan terpenting dalam program uji tanah di laboratorium. Analisis contoh tanah bertujuan untuk (1) menentukan sifat fisik dan kimia tanah (status unsur hara tanah), (2) mengetahui lebih dini adanya unsur-unsur beracun di dalam tanah, (3) sebagai dasar penetapan dosis pupuk, dan kapur sehingga lebih efektif, efisien, dan rasional (4) Memperoleh data base untuk program perencanaan dan pengelolaan tanah-tanaman. Contoh tanah utuh untuk penetapan-penetapan kerapatan limbak, susunan pori tanah, pH dan permeabilitas. Contoh tanah dengan agregat utuh untuk penetapan kemantapan agregat dan nilai Cole (Khamandayu, 2009).
Tanah dalam keadaan utuh yang dinyatakan dalam g/cm3. Isi tanah terdiri dari bahan padatan dan isi ruangan diantaranya. Bagian isi tanah yang tidak berisi oleh bahan padat, baik bahan mineral maupun bahan organik disebut ruang pori tanah. Ruang pori tanah adalah isi seluruh pori-pori dalam suatu isi tanah yang utuh yang dinyatakan dalam persen, yang terdiri atas ruang diantara zarah pasir (sand), debu (silt), liat (clay) serta ruang diantara agregat-agregat tanah. Kerapatan Limbak Ruang Pori Total = [ 1 – ] x 100 % Kerapatan Jenis Zarah Untuk mendapatkan kerapatan jenis zarah tidaklah mudah, karena variabel ini merupakan fungsi dai nisbah antara komponen mineral dan bahan organik tanah. Untuk komponen mineral tanpa memperhatikan banyaknya Fe dan mineral-mineral berat, keapatan jenis zarah adalah 2,65 (angka rata-rata). Sedangkan untuk bahan organik dari tanah normal (tanah gambut) diambil rata-rata 1,45. Jika kadar bahan organik > 1 %, kerapatan jenis tanah harus dikurangi dengan 0,0 untuk tiap bahan organik. Tetapi untuk tanah gambut, hal ini tidak berlaku karena harus dilakukan pengukuran langsung (Abdul Madjid, 2008).
2.2 Contoh Tanah Tidak Utuh
Contoh tanah biasa atau contoh tanah terganggu untuk penetapan-penetapan kadar air, tekstur dan konsistensi. Pengangkutan contoh tanah terutamauntuk penetapan kerapatan limbak, pH dan permeabilitas harus hati-hati. Guncangan-guncangan yang dapat merusak struktur tanah harus dihindarkan. Dianjurkan untuk menggunakan peti khusus yang besarnya disesuaikan dengan ukuran dan jumlah tabung. Waktu penyimpanan perlu diperhatikan. Contoh tanah yang terlalu lama dalam ruang yang panas akan mengalami perubahan, karena terjadi pengerutan dan aktivitas jasad mikro. Sebaliknya contoh tanah disimpan dalam ruangan yang lembab (kelembaban relatif kurang lebih 90 % dan suhu kurabg lebih 18 % dengan variasi cukup kecil (Hakim, 1986).



III. METODE PENGAMBILAN CONTOH TANAH
3.1 Tempat dan Waktu
Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah tentang Pengamatan Profil Tanah dilaksanakan di Daerah Penghijauan STQ, Kecamatan Palu Timur, Kabupaten Kota Palu, Propinsi Sulawesi Tengah dan dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 26 Januari 2010 pukul 09.30 WITA sampai selesai.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang di gunakan dalam praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah tentang pengamatan Profil Tanah yang di laksanakan di daearah penghijaun STQ. Yaitu Ring Sampel, Sekop, Pisau Tajam dan Tipis.
Bahan yang di gunakan dalam praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah tentang pengamatan Profil Tanah yaitu Karet, Kertas Bening dan Label.
3.3 Cara Pengamatan
Pertama-pertama yang kami lakukan adalah menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pengamatan tanah, setelah alat dan bahan sudah siap, langkah yang pertama di lakukan adalah membersihkan dan meretakan permukaan tanah yang akan diambil, setelah itu letakan tabung tegak pada permukaan tanah tersebut. Dan setelah itu di beri nomor pada tabung yang sudah terisi tanah. Menggali tanah disekeliling tanah dengan sekop, kemudian karat tanah dengan pisau sampai hampir mendekati tabung, tekan tabung sampai tiga perempat bagian masik ke dalam tanah, kemudian meletakkan tabung lain tepat di atas tabung pertama kemudian menekannya sampai masuk kira-kira 1 cm. kemudian menggali tabung beserta tanahnya dengan sekop. Kemudian pisahkan tabung ke dua dengan hati-hati, kemudian potonglah yang kelebihan yang ada pada bagian atas dan bawah sampai rata sama sekali setelah itu menutup tabung dengan penutup plastik.











IV. HASSIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Dari Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah tentang Pengambilan Conto Tanah kami memperoleh hasil sebagai berikut :

4.2 Pembahasan
Dari Pengambilan sampel tanah utuh yang di lakukan dengan cara membersihkan areal permukaan tanah dan setelah itu tanah di ratakan yang akan diambil, kemudian meletakkan tabung (ring sampel) tegak dan jangan sampai terbengkok pada lapisan tanah tersebut, dan kemudian tanah yang di amabil di berikan nomor pada ring sampel tersebut agar mudah di bedakan anatara ring satu dan ring dua. Dan kemudian Pukul ring hingga sebagian ring sampel tersebut tertanam sebagian. Kemudian menggali tanah disekeliling tabung tersebut dengan menggunakan sekop kecil, tekan tabung dengan menggunakan martil yang diletakkan diatas sepotong kayu pada atas ring sampel hingga tiga per empat bagiannya masuk kedalam tanah. Kemudian meletakkan tabung lain tepat diatas tabung pertama, dan menekannya kembali dengan martil hingga bagian bawah tabung masuk kedalam tanah. Kemudian menggali ring sampel beserta tanah didalamnya dengan menggunakan sekop, kemudian memisahkan kedua tabung dengan hati-hati dan memotong bagian tanah yang berlebihan dengan menggunakan pisau yang tajam, kemudian membungkus ring sampel beserta tanahnya tersebut dengan menggunakan plastik. Pengambilan sampel tanah biasa dilakukan dengan cara menggali tanah sampai kedalaman tertentu, kemudian mengambil tanah yang dibatasi dengan belah-belah alami atau gumpalan (Purbayanti, 1995).
Analisis tanah dilakukan terhadap contoh tanah yang diambil di lapangan dengan metode tertentu sesuai tujuan yang diharapkan. Analisa tanah dilabo-ratorium dilakukan terhadap variabel-variabel kimia dan fisik tanah : pH, kapasitas tukar kation, Nitrogen, kalium, fosfor, kalsium, magnesium (hara makro), hara mikro (Fe, Cu, Zn, B, Mo, dll), bahan organik, tekstur tanah dan sebagainya. Kadar unsur hara tanah yang diperoleh dari data analisis tanah bila dibandingkan dengan kebutuhan unsur hara bagi masing-masing jenis tanaman, maka dapat diketahui apakah status/kadar unsur hara dalam tanah tersebut sangat rendah (kurang), rendah, sedang, cukup ataukah tinggi, sesuai kriteria tertentu (Khamandayu, 2009).
Selanjutnya melakukan pengambilan tanah tidak utuh atau terganggu, cara pengambilannya bebeda dengan cara pengambilan untuk contoh tanah utuh karena tidak menggunakan ring sampel. Tanah yang diambil yakni tanah disekitar bekas pengambilan tanah utuh. Yaitu dengan mengikis bagian pinggir tanah bekas pengambilan tanah utuh, tanah diambil kemudian dimasukan ke dalam plastik dan diberi label kemudian di amati di laborotorium
Contoh tanah biasa atau contoh tanah terganggu untuk penetapan-penetapan kadar air, tekstur dan konsistensi. Pengangkutan contoh tanah terutamauntuk penetapan kerapatan limbak, pH dan permeabilitas harus hati-hati. Guncangan-guncangan yang dapat merusak struktur tanah harus dihindarkan. Dianjurkan untuk menggunakan peti khusus yang besarnya disesuaikan dengan ukuran dan jumlah tabung. Waktu penyimpanan perlu diperhatikan. Contoh tanah yang terlalu lama dalam ruang yang panas akan mengalami perubahan, karena terjadi pengerutan dan aktivitas jasad mikro. Sebaliknya contoh tanah disimpan dalam ruangan yang lembab (kelembaban relatif kurang lebih 90 % dan suhu kurabg lebih 18 % dengan variasi cukup kecil (Khamandayu, 2009).









V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan maka dapat di tarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Tanah utuh untuk penetapan-penetapan kerapatan limbak, susunan pori tanah, pH dan permeabilitas. Contoh tanah dengan agregat utuh untuk penetapan kemantapan agregat dan nilai Cole.
2. Contoh tanah yang terlalu lama dalam ruang yang panas akan mengalami perubahan, karena terjadi pengerutan dan aktivitas jasad mikro. Sebaliknya contoh tanah disimpan dalam ruangan yang lembab kelembaban relatif kurang lebih 90 % dan suhu kurabg lebih 18 % dengan variasi cukup kecil
5.2 Saran
Ketika di lapangan agar para praktikum dapat memperhatikan dan memahami dan tidak mengakibatkan kesalahan dalam praktek.




DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Faktor-Faktor Pembentuk Tanah. http://dasar-dasarilmutanah.blogspot.com. Diakses 27 Januari 2010.
As-syakur. 2008. Tanah. http://mbojo.wordpress.com. Diakses 27 Januari 2010.
Abdul Madjid, 2008. Definisi tanah. http:// 74. 125. 153. 132/ search ? q = cache:- yrHFC96KJkJ : dasar 2 ilmu tanah. Blog spot.com. Diakses tanggal 29 Januari 2010.
Darman, Saiful. 2010. Petunjuk Ringkas Pengamatan Tanah di Lapang. Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Palu.
Hakim N, dkk, 1986 Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung.
Purbayanti, dkk., 1995. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada Press. Jogyakarta.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar